Elmizah

Tetap Konsisten & Selalu Optimis

Hukum acara tepung tawar

assalamualaikum tadz..
Langsung aja y tadz.
Bagaimana hukumnya upacara tepung tawar pada adat perkawinan, khitanan serta upacara pemberangkatan haji tadz? upacara ini adalah adat yg sudah dilakukan turun temurun, umumnya dilakukan oleh masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur?
Ity

Waalaikum salam
Tepung tawar adalah salah satu adat istiadat sebagian suku di Indonesia atau Malaysia. Biasanya adat ini dilakukan ketika acara pernikahan, sunatan, kelahiran, masuk rumah baru dll. Jika kita telusuri, asal muasal adat ini, maka kita akan menemui, bahwa ini adalah salah satu adat istiadat agama hindu. Mereka melakukan ritual ini dengan keyakinan, bisa menolak bala, menjauhkan dari mara bahaya, mendapat keberkahan dari roh-roh dan kekuatan gaib dan lain sebagainya. Beginilah sebahagian contoh keyakinan masyarakat Indonesia sebelum masuknya agama islam. Seiring waktu, islam pun masuk ke tanah air, dengan melalui para pedagang-pedagang arab, dan para dai-dai yang ikhlas dalam menyebarkan ajaran agama islam.
Kehidupan masyarakat Indonesia yang kental dengan ritual-ritual seperti itu, atau yang semisalnya, bukanlah hal yang mudah untuk mengubah total kebiasaan yang telah mendarah daging tersebut. Maka para dai-dai pun menyelipkan misi-misi da’wah dalam adat-adat masyarakat, dengan memasukkan zikir-zikir, doa-doa, shalawat dan lain sebagainya. Ini adalah salah satu cara menyampaikan da’wah, bukan harus langsung mengubah total dengan paksa atau kekerasan, da’wah perlu pendekatan, dengan kehalusan dan perlahan-lahan. Seabagai contoh, dahulu cucu nabi Muhammad saw, yaitu hasan dan husain melihat seseorang yang sedang wudu’, dan cara berwudu’nya itu salah. Mereka tidak langsung menyalahkan orang tadi, dengan mengatakan : “wudu’ kamu salah, wudu’ yang benar itu adalah begini”. Karena, jika mereka langsung seperti itu, bisa saja orang tadi akan marah, atau paling tidak dia akan membela dirinya dan mengatakan dirinya benar. Akan tetapi, hasan dan Husain tau cara menyampaikan da’wah yang baik, mereka mengatakan kepada orang tadi : “kami selalu bertengkar, hanya masalah wudu’. Bisakah anda membantu kami menilai sapa yang paling baik dan benar wudu’nya di antara kami?”. Lalu hasan dan Husain pun wudu’, setelah wudu’ orang tadi sadar bahwa cara wudu’nya itu tidak sama dengan cara wudu’nya hasan maupun Husain. Maka orang tadi menjawab : wudu’ kalian dua-duanya benar, wudu’ saya lah yang salah. Lihatlah, betapa halusnya mereka menyampaikan da’wah tersebut. Begitu juga da’wah atau menyampaikan nasehat itu, harus lihat-lihat tempatnya juga, jangan langsung menyalahkan dan menasehati orang di depan orang ramai. Imam Syafi’I berkata :


تعمدني بنصحك في انفرادي # و جنبني النصيحة في الجماعه
فإن النصح بين الناس نـوع # من التوبيخ لا أرضى استماعه
وإن خالفتني و عصيت قولي # فـلا تجزع إذا لم تعط طاعه

Bila engkau hendak memberikan nasehat kepadaku, berilah pada saat ku sendiri,
dan janganlah engkau memberikan nasehat kepadaku di hadapan orang banyak.
Sesungguhnya nasehat yang dilakukan di hadapan orang banyak itu merupakan satu bentuk
penghinaan, yang saya tidak suka mendengarnya.
Jika engkau tidak sepakat denganku (terhadap masalah ini) dan tidak menuruti perkataanku,
maka jangan putus asa kalau (nasehatmu itu) tidak diikuti.
[Diambil dari Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal.79]

Nah! Begitu jugalah para dai-dai yang pertama kali membawa islam ke tanah air, mereka menyampaikan da’wah itu dengan cara yang sangat halus dan perlahan-lahan. Lalu bagaimana dengan sekarang? Apakah melaksanakan adat istiadat itu, seperti tepung tawar itu boleh?
Itu semua tergantung orang yang melakukannya. Jika mereka meyakini dengan tepung tawar itu bisa menjadi tolak bala, atau bisa sebagai tangkal mara bahaya, atau mampu membuat kebahagian untuk mempelai, atau mampu menyembuhkan segala macam penyakit, maka itu salah dan tidak boleh. Karena hanya Allah lah yang mampu dan kuasa melakukan ini semua, bukan tepung tawar tadi. Allah berfirman dalam al quran :

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدُيرٌ

“Jika Allah menimpakan kepada kamu sesuatu kemudharatan ( seperti bala – bencana ataupun kesakitan ataupun kefakiran ) , maka tidak ada yang dapat mencegahnya ( menolaknya ) melainkan DIA sendiri , dan jika DIA mau memberikan kepada kamu kebaikan ( seperti kesihatan ataupun kekayaan ) , maka DIA sangat berkuasa di atas segala sesuatu ( sehingga tiada siapa juga yang dapat menghalang-Nya untuk memberikan kebaikan itu kepada kamu ). (Q.S Al An’am 17)

Namun, jika itu hanya dilakukan untuk adat istiadat bukan ritual, serta tidak ada keyakinan yang begini dan begitu dalam acara tersebut, karena keyakinan yang mantap bahwa Allah lah yang maha kuasa atas segala sesuatu, itu tidak apa-apa. Karena islam tidak pernah melarang adat istiadat selama itu tidak menyalahi al quran dan hadits. Tapi, alangkah lebih amannya jika kita tidak melakukannya, karena itu lebih aman dan lebih ashlah. Karena kita tidak tau, apakah keyakinan orang-orang yang kita undang atau orang-orang yang ikut dalam acara itu sama denagn keyakinan kita. Jika beda, atau jika mereka meyakini bahwa adat tepung tawar itu bisa menolak bala dan lain sebagainya, bukan karena kehendak dan kekuasaan Allah, maka betapa besar dosa yang telah kita lakukan, mengumpulkan manusia dalam kema’siatan. Wal’iadzu billah. Dan kalau sebagai rasa syukur, saya rasa kurang tepat. Karena defenisi syukur adalah, mempergunakan apa yang diberikan Allah kepada jalan yang DIA ridhai. Sedangkan tepung tawar itu, malah buang-buang tepung dan lain sebagainya, kan itu mubazzir.
Moga kita selalu dalam jalan yang Allah ridhai. Dan semoga kita dijauhakn dari hal-hal yang merusak akidah kita. Amiin ya Robb.

Wallahu a’lam

2 Tanggapan to “Hukum acara tepung tawar”

  1. ity said

    hmmm..ya ustadz..
    udah jelas..
    skrg saya faham..

    syukron ustadz..
    smoga adat istiadat tersebut bisa hilang dari masyarakat seiring dgn kesadarannya.. dan semoga Allah senantiasa tunjukkan jalan yg lurus bagi hamba2nya InsyaAllah..Amiin y rabb

    • elmizah said

      alhamdulillah
      klu sudah faham..

      ya moga saja…
      amiin ya mujiib…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: