Elmizah

Tetap Konsisten & Selalu Optimis

Rasa Pilu Dihari Sabtu

Masjid As-Salam yang begitu indah dan megah. Berkubah kuning keemasan. Dindingnya kramik cantik berwarna cream. Dengan jendela-jendela kaca berhias ukiran bunga. Berlantai kramik putih bersih. Di sebelah utara masjid ini ada rumah besar berwarna hijau muda, itulah rumah H. Syu’aib Al-Hafizh dengan keluarganya. Tak jauh dari rumah itu, ada rumah mungil, mungkin lebih tepat dikatakan kamar kecil. Di situlah aku tinggal bersama sahabat karibku Rafqi. Dia adalah pemuda yang tampan, berbadan tinggi tejgap, berhidung mancung, bermata sayu, berbibir tipis, berkulit kuning langsat.
Tak terasa sudah tiga minggu lebih aku tinggal di sini. Sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang Rafqi. Yang jelas dia adalah pemuda yang baik, sopan, ramah tapi pendiam. Dia lebih sering senyum dari pada bicara. Dia pernah berkata “sungguh lidah pandai bersilat. Biasakanlah lidahmu menuturkan kebenaran dan kejujuran. Karena Malaikat mencatat semua kata-katamu, Allah mendengar semua celotehmu, dan pengadilan hakiki siap menghakimimu”. Dia selalu bangun pukul 03.00 WIB shalat tahajjud, berdo’a, berzdikir dan membaca Al-Quran dengan suaranya yang merdu. Dia telah hafal 28 juz yang ditasmi’kan kepada H. Syu’aib, dan bertekat bulan depan akan mengkhatamkan hafalannya. Dia juga pernah mengingatkanku agar aku tidak merokok lagi, apalagi sekolah tempatku mengajar juga melarang merokok dalam aktivitas belajar mengajar. Memang aku orangnya perokok. Satu hari aku bisa menghabiskan 1-2 bungkus. Tapi ketika kujelaskan padanya, bahwa sulit bagiku untuk tidak merokok, dan kumohon padanya, agar jangan melarangku lagi, dia pun paham keadaan dan sifatku yang sedikit tidak mau diatur. Satu lagi, dia banyak mengajariku tentang ibadah, hukum-hukum dan lain-lain. Jujur saja, aku buta tentang agama, dialah guru agamaku. Selama tiga minggu bersamanya banyak perubahan dalam hidupku. Pesannya : “kalau kamu nanti mau nikah, carilah istri yang shalihah, jangan hanya sekedar cantik dan kaya”. Tiba-tiba…..
“Putra… aku pergi dulu ya, ngantar Mardhiyah kerumah Pak Anas. Gak lama kok, insya Allah sebelum magrib balik” teriak Rafqi.
“Ya… Hati-hati di jalan” jawabku.
Rafqi dan Mardhiyah memang sangat akrab. Dari SD sampai Kuliah selalu bersama. H. Syu’aib sudah menganggap Rafqi seperti anaknya sendiri. Sayangnya pada Rafqi seperti dia menyayangi anak gadis satu-satunya itu. H. Syu’aib juga telah mempercayakan Rafqi sebagai imam di masjid As-Salam. Sekarang Rafqi bukan hanya sekedar tukang bersih mesjid, tapi dia juga adalah imam mesjid ini. Rafqi juga sering cerita padaku tentang Mardhiyah. Ya…. Mardhiyah memang gadis cantik yang shalihah.
Ku duduk termenung di serambi masjid. Melihat keindahan alam di tanah perjuangan Tuanku Rao ini. Ku tatap burung-burung yang berterbangan dengan bebasnya. Anak-anak bermain dengan riangnya. Sang mentari terus berjalan condong ke barat. Cahaya merah jingga mulai terpancar. Awan berarak terukir indah di langit. Hatiku bergumam “sungguh elok ukiran seni, tapi tak seelok ciptaan Ilahi. Sungguh indah ungkapan sastrawan, tapi tak seindah sastra Al-Quran”.
Lalu hayalanku terbang mengingat Lina, mahasiswi Fakultas Kedokteran, gadis cantik yang rajin ibadah, dan terus mengikuti pengajian setiap jum’at pagi bersama H. Syu’aib. Sudah hampir setahun ku-PDKT dan mengungkapkan isi hatiku, tapi seolah-olah cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.
“Lina apa kabar? Sore-sore begini lagi ngapain?” kuberanikan mengirim SMS padanya.
“Bang…sudah sering Lina katakan, jangan menghubungi Lina lagi kalau abang masih seperti dulu”. Balasnya. Dia memang sering mengatakan kata-kata ini “ kalau abang masih seprti dulu,” tapi aku tidak faham maksud dari kata-kata itu. Akhirnya ku kirim SMS lagi.
“ sekarang abang minta penjelasan dari Lina, dan abang harap jawaban yang jujur. Apakah Lina mencintai abang?” kutunggu-tunggu jawaban darinya, tapi tak kunjung tiba.
Menjelang maghrib mobil kijang hitam berhenti di depan rumah H. Syu’aib, tentu saja adalah Rafqi dan Mardhiyah. Dengan terburu-buru Rafqi ke kamar dan bersiap-siap mengimami jama’ah. Rafqi memang sangat menghormati waktu. Baginya menyia-nyiakan waktu, sama saja dengan menghambur-hamburkan uang. Setelah sholat maghrib seperti biasa kami duduk-duduk di serambi masjid. Rafqi menjelaskan kewajiban shalat yang lima, fadhilah shalat jama’ah dan keharusan mentaubati dosa-dosa yang lalu. Katanya “kamu tidak dituntut hidup sempurna, karena itu tidak akan mungkin. Tapi kamu dituntut agar hari ini lebih baik dari hari kemaren. Jadikanlah pengalamanmu guru yang paling berharga. Janganlah kamu jatuh dua kali di lobang yang sama”.
Setelah shalat Isya’ kami pun kekamar dan makan malam. Seusai makan malam ,ku ceritakan tentang SMS tadi sore. Aku sudah sering curhat ke Rafqi, apalagi masalah cintaku dengan Lina.
“Begini Putra, bukannya aku mengajari atau ikut campur urusan pribadimu. Menurutku wajar seorang sahabat mengingatkan dan membantu sahabatnya. Putra… ingatlah, jika kamu tidak bisa menyayangi dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa mencintai orang lain. Jika kamu tidak bisa mencintai orang lain, tentu saja cintamu tak berbalas”.
Ku mengernyitkan kening. Aku belum paham maksud dari kata-katanya.
“lihatlah dirimu yang sering sakit-sakitan, semua akibat apa? Tentu kamu tahu karena rokok, jadi harapanku janganlah merokok lagi”.
Hatiku berdesir. Darahku mendidih. Tiba-tiba HP-ku memekik singkat, tanda pesan masuk. Kubaca pesan itu, ternyata dari Lina. “sebenarnya berat lidah ini untuk mengucapkannya, tapi agar semuanya selesai, kuberanikan juga. Lina tidak mencintai abang kalau abang masih seperti dulu. Lina mencitai pemuda seperti bang Rafqi”.
Seeerrrr… emosiku menggelegak. Amarahku meledak. Kutidak bisa mengontrol diriku lagi. Kuberdiri. Dan…..
Tpaaak… kutampar Rafqi dengan sekuat tenaga.
“O.… tenyata kaulah biang keroknya. Diam-diam kau telah mencuri hati Lina. Sehingga dia tidak bisa mencintaiku lagi. Kamu sahabat, atau pengkhianat?” bentakku
“Putra apa maksud semua ini?” Tanya Rafqi sambil memegang pipinya yang memar.
“Alah… jangan sembunyi di balik kaca Qi ! Aku sudah tahu semua. Mulai sekarang aku gak mau melihat wajahmu lagi. Persahabatan kita putus. Aku benci kamu. Benci…… benci…!”
“Tapi Put… jelaskan dulu apa salahku?”
“Diam… Diam……!” kuberteriak keras. Emosiku memuncak. Kutinggalkan Rafqi dalam ketidak tahuannya. Malam itu juga aku pulang ke Panti desa tempatku tinggal.
*****
Beberapa hari kemudian aku jatuh sakit. Aku dirawat di rumah sakit Ibnu Sina. Hari kedua Rafqi dan Mardhiyah menjengukku. Sebenarnya aku sangat tidak suka atas kehadirannya. Tapi, karena Mardhiyah disampingnya, ku sembunyikan kebencian itu. Setelah berbincang-bincang. Rafqi menyuruh Mardhiyah menunggu diluar. Mardhiyah pun keluar. Rafqi memulai pembicaraannya.
“ Sebelumnya aku minta maaf atas segala kesalahan yang selama ini telah ku lakuakan. Apalagi hanya karena salah faham persahabatan kita retak begitu saja. Tapi aku yakin, dibalik semua yang terjadi, ada hikmah yang tersembunyi”. Tutur Rafqi terputus-putus karena menahan air mata.
Aku tidak menanggapi. Aku hanya diam membisu. Syetan seolah-olah telah menguasai diriku. Kata-katanya itu hanya menambah sakit hatiku. Mataku memandangnya dengan penuh kebencian. Aku muak melihat wajahnya. Rafqi pun memahami keadaanku. Dengan mata yang berkaca-kaca dia berpamitan dan tidak lupa dia membacakan doa untukku.
*****
Pada hari sabtu, hari ke empat aku di rumah sakit. Dokter telah mengizinkanku pulang dan berpesan agar aku tidak merokok lagi karena akibatnya sangat fatal. Tiba-tiba Lina datang. Ku ajak dia ke taman rumah sakit itu. Sesampainya di taman kubertanya,
“apa gerangan yang membuat Lina datang menjenguk abang?”
Lina diam sejenak sambil menarik nafas panjang.
“Bang… sebenarnya Lina sayang dan mencintai abang. Tapi Lina tidak mau bersuamikan perokok. Sakit-sakitan karena rokok. Lina tidak mau uang jerih payah suami Lina sebagian besarnya habis dibakar untuk rokok. Itulah arti kata-kata Lina “kalau abang masih seperti dulu” lina sangat menyayangi abang. Lina curhat ke bang Rafqi, berharap dia bisa menasehati abang. Karena dia teman baik abang. Lina pernah SMS “Lina cinta pemuda seperti bang Rafqi” bukan berarti Lina mencintainya. Lina sadar Lina tidak pantas untuknya. Dia tampan, sopan dan baik. Tapi Lina ingin abang seprti dia yang tidak merokok. Itu saja bang. Tidak lebih” papar Lina terisak-isak. Air mata membasahi pipinya. Hatiku tersentuh. Ingin rasanya kumemeluknya. Menyeka air matanya, tapi dia belum sah bagiku. Tak terasa air mataku mengalir. Dadaku sesak oleh rasa penyesalan yang luar biasa. Aku telah menyakiti sahabatku yang begitu baik dan perhatian padaku. Aku telah melukai hatinya. Aku telah buruk sangka padanya. Karena api kebencian dan cemburu yang membabi buta ku lupakan kebaikannya selama ini. Akulah pengkhianat. Akulah penjahat. Aku memang pantas mendapat laknat. Hatiku menjerit-jerit pilu.
“Ya… robb! masih adakah pintu maaf bagi hamba yang bergelimang dosa ini? Masihkah hamba di beri kesempatan?”
Tiba-tiba HP Lina berdering. Satu pesan di terima. Lina terkejut. Mukanya pucat pasi.
“Ada apa Lin?” tanyaku cemas bercampur heran.
Dia tidak menjawab. Dia hanya memberikan HP-nya padaku.
“Lina kamu dimana? Bang Rafqi kecelakaan. Kami sekarang di Rumah Sakit Umum Rao. Kamar 1 A.” dari Mardhiyah.
Bagai petir di siang bolong. Kuterperanjat kaget membaca SMS itu. Hatiku gundah gulana. Penyesalanku membuncah-buncah.
*****
Tak berapa lama mobil Honda Jazz hitam milik Lina melaju kencang menyusuri jalan lintas Medan-Padang. “Semoga Rafqi baik-baik saja. Ku akan bersimpuh minta maaf dikakinya. Akan ku ungkapkan seluruh penyesalanku yang mendalam atas segala ketololanku. Ku berjanji tidak akan egois lagi. Aku ingin seperti dia. Hatinya begitu putih. Jiwanya bersih. Rafqi…masih adakah embun kemaafan untuk sahabatmu yang pendosa ini? Masihkah kamu mau bersahabat denganku? Masihkah kamu meluangkan waktu untuk mengajari dan mendidikku? Rafqi maafkanlah aku. Aku khilaf. Aku salah menilaimu. Sekarang ku baru merasakan kebenaran nasehatmu. Bila ku mengikuti semua pesan-pesanmu, bukan hanya ketenangan jiwa yang kudapatkan, bahkan cinta yang dari dulu kuharapkan telah datang kepelukanku. Kamu benar sahabat. Akulah yang salah dan bodoh. Maafkan aku Rafqi. Maafkanlah aku”. Rintihku sedih.
Dua puluh menit kemudian, kami tiba di Rumah Sakit Umum Rao. Di depan kamar 1A. jantungku berdetak kencang. Hatiku tak tenang. Kubuka pintu itu dengan jari jemari yang gemetar. Ku merasakan suasana sedih yang mencekam. Ku lihat H. Syu’aib dengan istrinya berpelukan sambil menangis terisak-isak. Mardhiyah duduk mematung disamping Rafqi. Matanya bengkak karena banyak menangis. Kami pun masuk. Mardhiyah langsung berdiri dan memeluk Lina. Tangisnya meledak. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Fikiranku semakin kacau. Jiwaku galau. Hatiku risau. Kudekati Rafqi, ku tatap wajahnya yang pucat dengan kepala dibalut perban. Matanya terpejam. Kupegang tangannya, dingin seperti es. Ku letakkan telingaku di dadanya, jantungnya tak berdetak lagi. Ternyata Rafqi telah meninggalkan kami untuk selamanya. Sang Maha Pencipta telah memanggilnya. Kupeluk erat-erat tubuhnya yang terbujur kaku. Ku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Lidahku kelu. Ku tak tahu harus berbuat apa. Aku seperti orang gila, menjerit dan menangis. Kugoyang-goyang tubuhnya “bangun…Rafqi…bangun….” Tapi apalah daya semua telah terjadi, dia telah pergi. Penyesalanku semakin menjadi-jadi. Tangisku membahana. Aku merasa orang yang paling zalim di dunia. Aku telah memutuskan cita-citanya yang bulan depan akan mengkhatamkan hafalan Al-Qurannya. Ku telah menghancurkan harapan H. Syu’aib yang begitu sayang padanya. Aku telah mengiris-iris hati Mardhiyah yang sangat mencintainya. “Ya…Allah betapa besar dosa hambamu ini. Ampunilah hamba ya…Allah. Tunjukilah hamba dengan hidayahmu”. Air mataku terus mengalir. Tapi itu tak ada gunanya, karena Rafqi tidak akan hidup kembali. “Oh…… penyesalan kenapa kamu selalu datang terlambat?”
(Untuk Mereka Yang Bersahabat)

6 Tanggapan to “Rasa Pilu Dihari Sabtu”

  1. abdullah said

    menyentuh hati…
    ni kisah nyata ya??

    • elmizah said

      trimakasih…
      g semuanya kisah nyata
      banyak yang di dramatisir…
      hehhe

  2. syafii said

    yang jdi pertanyaan…
    betulkah seorang roy merokok???

    kok bru tau….
    perasaan dl g ada la…

    • elmizah said

      yeeee it kn bkn crta tentang aku ii…
      lgian namany crt kn,ad fiktif ny jg…
      hehe

  3. syafii said

    ups.. xry…

    q pikir ne kejadian yg prnah d alami penulis…
    rupanyaaa….
    padahal…hehhehe

    • elmizah said

      hehe
      tenang aj…
      pnulis msh seperti yg dulu…
      hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: